Monday, March 28, 2016

Fakta Menarik Seputar Mencontek di Kalangan Siswa

Bagi seorang pelajar, mencontek bukanlah hal yang baru terutama ketika mereka menghadapi Ujian. Mencontek dapat dilakukan dengan berbagai cara dari yang konvensional sampai dengan menggunakan media yang canggih seperti gadget. Tetapi apapun bentuknya, tetap bahwa perbuatan mencontek adalah perbuatan yang salah karena bisa berdampak jangka pendek juga jangka panjang.
source : http://growingleaders.com/
Ilustrasi mencontek
Nah, berikut ini ada beberapa fakta mengenai mencontek dalam ujian dikalangan siswa atau pelajar.
1. Mencontek menjadi sebuah budaya 
Tindakan mencontek memang sangat umum bagi pelajar atau mahasiswa. Dari pelajar pada tingkat sekolah dasar sampai dengan pelajar sampai dengan perguruan tinggi pasti familiar dengan tindakan tersebut. Maraknya kasus- kasus korupsi sekarang ini juga merupakan dampak dari budaya kecurangan yang sangat umum dilakukan semenjak sekolah. Siswa akan menganggap kurang "mantap" bila mereka mengerjakan ujian atau tes tanpa mencontek.
2. Mencontek bisa disebabkan karena tekanan
Sebenarnya mencontek itu bisa terjadi akan adanya tekanan dari luar siswa yaitu orang tua. Kadang- kadang orang tua memaksa anaknya untuk mendapatkan nilai yang baik atau mendorong untuk masuk ke perguruan tinggi terbaik dengan tanpa memperhitungkan kemampuan dan minat dari anak. Keadaan inilah yang membuat anak menjadi tertekan atau bahkan mengalami stres sehingga mereka akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari ujian atau tes. Melakukan kecurangan dengan mencontek adalah salah satu cara untuk menipu mendapatkan hasil yang baik sesuai harapan. Sekilas memang hasil yang didapatkan memuaskan, namun, bentuk kecurangan yang dilakukan akan berdampak pada kehidupan atau langkah masa depannya.
3. Bentuk tes membuka peluang kecurangan
Kadang guru memberikan tes atau ujian dengan soal-soal berbentuk multiple choice atau pilihan ganda. Soal - soal dengan bentuk pilihan ganda membuka peluang bagi siswa untuk melakukan kecurangan misalnya mencontek pekerjaan temannya. Bila memungkinkan, guru bisa memberikan bentuk soal pilihan ganda dengan versi yang berbeda antar siswa, jadi siswa yang duduknya berdekatan akan memperoleh soal yang berbeda atau guru bisa memberikan bentuk soal esai dengan jawaban penalaran sehingga mereka harus berfikir sendiri untuk menjawabnya.
4. Siswa yang mencontek cenderung kehilangan percaya diri akan kemampuannya
Kadang-kadang siswa berpikir bahwa mereka tidak dapat melakukannya dengan baik dalam ujian atau tes atau berfikir bahwa mereka tidak cukup mampu mengerjakan ujian atau tes. Perasaan- perasaan inilah yang akan membuat siswa kehilangan rasa percaya dirinya dan berpendapat bahwa mereka akan gagal dalam ujian atau tes. Salah satu pilihan bagi mereka untuk mengerjakan tes dengan baik adalah dengan mencontek atau melakukan kecurangan. Sebagian siswa percaya bahwa nilai menentukan masa depan mereka dan jika mereka gagal, kesempatan akan tertutup bagi mereka. Karena itu, mereka memastikan untuk menggunakan cara apapun termasuk melakukan kecurangan untuk mendapatkan nilai yang diharapkan. Dengan cara seperti itu lama kelamaan, kepercayaan akan kemampuan akan menipis bahkan hilang. 
5. Mencontek itu bisa "menular"
Kecurangan yang terjadi dikalangan siswa biasanya terjadi karena adanya pengaruh siswa yang lainnya. Siswa akan berfikir bahwa orang-orang yang curang akan mendapatkan nilai yang lebih baik dan siswa yang tidak curang akan mendapatkan nilai dibawahnya. Dengan pemikiran seperti itu sangat mungkin bagi siswa yang belum terpengaruh akan mengikuti jejak dari siswa yang sudah melakukan kecurangan. Bahaya dari situasi ini adalah terbentuk anggapan bahwa kecurangan merupakan hal yang sangat lumrah atau umum dikalangan siswa. 

Nah, sahabat Ahzaa Media, apapun bentuknya, mencontek adalah bentuk perbuatan yang salah. Bila ada berbagai keuntungan yang diperoleh dari mencontek misalnya nilai yang tinggi, hal itu hanya berlangsung secara sementara saja dan ternyata ada dampak yang lebih besar lagi  yang akan terjadi. Namun demikian penanaman nilai kejujuran dan kedisiplinan bagi siswa ketika di sekolah menjadi sesuatu yang harus diprioritaskan. Dengan kejujuran yang terpupuk dalam pikiran siswa, maka tindak kecurangan akan berkurang atau bahkan hilang. 
Demikian tulisan yang sederhana ini, semoga bisa memberi manfaat bagi anda. silahkan isikan komentar anda pada kolom komentar dibawah ini bila mempunyai pandangan tentang budaya kecurangan yang terjadi. 
Terima kasih. Salam.

Sumber gambar : http://growingleaders.com