11/28/2023

Mengenal Unggah Ungguh dalam Bahasa Jawa : Pengertian, Macam, Penerapan dan Contohnya

Bahasa Jawa merupakan bahasa yang kaya dengan beragam kaidah di dalamnya. Unggah- ungguh dalam Bahasa Jawa contohnya, yang dikenal sebagai aturan dalam bertutur kata maupun bertingkah laku dengan mengedepankan sopan santun untuk saling hormat menghormati orang lain. 

Dalam unggah ungguh bahasa Jawa, dikenal tingkatan penggunaan bahasa yaitu Ngoko dan Krama. Ngoko kemudian dibagi menjadi dua yaitu Ngoko Lugu dan Ngoko Alus, sedangkan Krama juga dibedakan menjadi dua yaitu Krama Lugu dan Krama Alus. 

Gambar oleh Photo Mix dari Pixabay 

Penerapan unggah ungguh dalam bahasa Jawa dapat berguna dalam interaksi khususnya dengan orang yang seumuran atau sederajat, orang yang lebih tua maupun orang yang dipandang lebih tinggi dalam status sosial. 

Pada pembahasan kali ini akan diulas tentang bagaimana menggunakan beragam jenis uggah ungguh yang terdiri atas Ngoko Lugu, Ngoko Alus, Krama Lugu dan Krama Alus.

Ngoko Lugu 
Ngoko Lugu merupakan unggah ungguh yang banyak digunakan untuk keadaan berbicara antara orang tua kepada anak, guru kepada siswa, antarteman yang sudah akrab, petinggi terhadap bawahannya maupun berbicara dalam hati. 

Ngoko Lugu biasanya menggunakan kosakata yang menggambarkan ragam bahasa ngoko seperti awalan (ater- ater) dan akhiran (panambang). Berikut contoh dari Ngoko Lugu,
  • Kowe mengko ning omah apa ora?
  • Adhiku lagi sinau basa Jawa.
  • Mengko bengi nonton tivi neng omahmu ya?
  • Fara ora mlebu sekolah amarga untune lara.
  • Aku lagi maca koran. 

Ngoko Alus
Ngoko alus digunakan untuk berinteraksi antara orang tua kepada orang yang lebih muda namun perlu dihormati, atau orang  muda kepada orang yang lebih tua dan untuk menghormati orang yang dibicarakan (orang ketiga).

Ngoko Lugu merupakan campuran bahasa antara basa ngoko dan krama alus. Basa ngoko digunakan  dalam awalan (ater- ater) maupun akhiran (panambang)-nya. 

Contoh dari basa ngoko lugu adalah sebagai berikut,
  • Pak guru wis rawuh apa durung?
  • Sampeyan arep tindhak menyang Solo kapan?
  • Mas Randu arep siram saiki apa mengko?
  • Wingi Pak Lik rawuhe nitih sepur.
  • Bukune diasta Mbak Rina.

Beberapa kata yang menggunakan ragam bahasa krama inggil digunakan untuk menghormati orang lain, seperti penerapan dalam kata benda (tembung aran), kata kerja (tembung kriya) dan kata ganti, pronominal (tembung sesulih). Misalnya pada beberapa kata omahe dapat diganti menjadi daleme, kata kowe diubah menjadi  panjenengan, dan kata mangan diubah menjadi kata dhahar

Krama Lugu 
Krama lugu biasanya digunakan untuk interaksi orang tua kepada orang yang lebih muda dengan pangkat yang lebih tinggi, oranga yang baru berkenalan, bawahan terhadap pemimpin dan untuk membahasakan diri sendiri. 

Krama Lugu menggunakan basa krama semua namun tidak bercampur dengfan krama alus atau krama inggil. Meskipun kadar kehalusan krama lugu paling rendah, namun bahasanya lebih halus daripada ngoko alus. Baik awalan (ater- ater) maupun akhiran (panambang) menggunakan ragam bahasa krama.

Contoh kalimat yang menggunakan krama lugu adalah sebagai berikut,
  • Pak Sholeh sampun tilem .
  • Sampeyan mundhut sayung ingkang pundi?
  • Ibu kundure mangke jam gangsal.
  • Kopine sampun diunjuk bapak. 

Krama Alus 
Krama alus merupakan unggah ungguh basa yang paling baik untuk menghormati. Maka penerapan Krama alus banyak digunakan dalam interaksi antara bawahan terhadap pimpinan, murid kepada gurunya, pembantu kepada tuannya, orang muda kepada orang yang lebih tua atau digunakan untuk menghormati orang lain. 

Dalam krama alus, awalan (ater- ater) dan akhiran (panambang) menggunakan ragam basa krama. Adapun contoh dari penerapan krama alus adalah sebagai berikut,
  • Mangga pinarak, panjenengan sampun ditengga.
  • Bapak nembe gerah waja.
  • Budhe sampun sare. 
  • Ibu nembe dhahar.
  • Bapak lan ibu sampun tindhak Surabaya kala wingi ndalu. 
  • Menawi sampun dados, monggo tugasipun saget dikempalaken. 
  • Bu, kulo nyuwun arta kangge tumbas kertas manila. 
 
Itulah tentang unggah - ungguh basa Jawa, pengertian, jenis, penerapan, dan contohnya. Penerapan unggah ungguh basa Jawa sangat bermanfaat ketika berinteraksi dengan orang lain yang memiliki usia dan derajat yang berbeda, serta orang yang berbeda status sosialnya. 

Semoga bermanfaat.

Salam. 

No comments:

Post a Comment