Ahzaa.Net: Perangkat Ajar
Modul Ajar (MA) Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Biologi SMA, Contoh dapat Dilihat dan Diunduh Disini!

Modul Ajar (MA) Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Biologi SMA, Contoh dapat Dilihat dan Diunduh Disini!

Pembelajaran mendalam (deep learning) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pemahaman konsep secara komprehensif, kemampuan berpikir kritis, analisis, dan penerapan ilmu dalam kehidupan nyata. Dalam Biologi, deep learning membantu siswa tidak sekadar menghafal istilah dan konsep, tetapi mengaitkan pengetahuan biologi dengan fenomena alam, lingkungan, kesehatan, dan teknologi.

Biologi

Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) pada mapel biologi SMA dipandang penting karena melalui pendekatan ini, siswa dapat mengaitkan teori dengan kehidupan nyata, mengembangkan keterampilan ilmiah, mengasah critical thinking, dan mendorong inovasi teknologi. 

Beberapa strategi yang dapat diterapkan dalam pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) biologi SMA diantaranya :
  • Inquiry Based Learning → siswa diajak merumuskan pertanyaan, melakukan eksperimen, lalu menemukan jawaban.
  • Problem Based Learning (PBL) → belajar melalui studi kasus, misalnya pencemaran lingkungan.
  • Project Based Learning (PjBL) → membuat proyek nyata, misalnya budidaya tanaman hidroponik.
  • Contextual Learning → menghubungkan konsep biologi dengan fenomena sehari-hari.

Berdasarkan uraian di atas, teman- teman guru yang mengampu mapel biologi perlu menyusun modul ajar yang sesuai dengan penerapan pembelajaran mendalam. Sebagai contoh, saya tampilkan Modul Ajar (MA) Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Biologi SMA kelas 10 bab I yang memuat beberapa aspek termasuk profil lulusan. 

MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : IPA (BIOLOGI)
BAB 1 :  PENGANTAR BIOLOGI

A. IDENTITAS MODUL
  • Nama Sekolah
  • Nama Penyusun
  • Mata Pelajaran : IPA (Biologi)
  • Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
  • Alokasi Waktu : 2 Pertemuan (2 x 45 menit per pertemuan)
  • Tahun Pelajaran : 2025 / 2026


B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
  • Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya memiliki pemahaman dasar tentang makhluk hidup, ciri-cirinya, dan beberapa konsep sederhana seperti fotosintesis, rantai makanan, atau bagian tubuh manusia/hewan dari pelajaran IPA di SMP. Mereka mungkin sudah mengenal beberapa cabang ilmu biologi secara umum (misalnya, botani, zoologi).
  • Minat: Minat peserta didik bisa bervariasi. Beberapa mungkin sangat tertarik pada alam, hewan peliharaan, tumbuhan, atau bahkan tubuh manusia. Ada juga yang lebih menyukai eksperimen, observasi, atau belajar melalui visualisasi (video, gambar 3D). Beberapa mungkin merasa biologi hanya hafalan istilah dan kurang menarik.
  • Latar Belakang: Peserta didik memiliki latar belakang yang beragam, mempengaruhi pengalaman mereka dengan makhluk hidup. Peserta didik yang tinggal di daerah pedesaan mungkin lebih akrab dengan keanekaragaman hayati lokal, sementara yang di perkotaan mungkin lebih akrab dengan teknologi atau isu kesehatan.

Kebutuhan Belajar:
  • Visual: Membutuhkan ilustrasi sel, diagram organisasi kehidupan, video mikroskopis, atau virtual tour ekosistem.
  • Auditori: Membutuhkan penjelasan yang detail, diskusi tentang isu-isu biologi, atau podcast sains.
  • Kinestetik: Membutuhkan praktikum sederhana (misalnya, mengamati preparat), field trip mini di lingkungan sekolah, atau membuat model.
  • Diferensiasi: Beberapa peserta didik mungkin memerlukan bantuan lebih dalam memahami terminologi ilmiah yang kompleks, sementara yang lain membutuhkan proyek yang lebih menantang untuk mengeksplorasi isu biologi kontemporer.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
  • Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (pengertian biologi, objek kajian, tingkatan organisasi kehidupan, cabang-cabang biologi, metode ilmiah), pengetahuan faktual (contoh fenomena biologis, nama-nama cabang biologi), dan pengetahuan prosedural (langkah-langkah metode ilmiah, cara melakukan observasi sederhana).
  • Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Materi Pengantar Biologi sangat relevan karena biologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan segala aspeknya, mulai dari tingkat molekuler hingga ekosistem global. Pemahaman biologi penting untuk kesehatan pribadi, pengelolaan lingkungan, inovasi teknologi (bioteknologi), pemahaman tentang pangan, dan apresiasi terhadap keanekaragaman hayati.
  • Tingkat Kesulitan: Tingkat kesulitan materi cenderung mudah hingga moderat. Konsep dasar cukup mudah diterima, namun mengenali tingkatan organisasi kehidupan secara berurutan dan memahami langkah-langkah metode ilmiah memerlukan pemikiran yang terstruktur dan latihan.
  • Struktur Materi: Materi tersusun secara hierarkis, dimulai dari pengertian Biologi, kemudian objek kajian, tingkatan organisasi kehidupan, dilanjutkan dengan cabang-cabang Biologi dan diakhiri dengan metode ilmiah. Ini memberikan fondasi yang komprehensif untuk pembelajaran Biologi selanjutnya.

Integrasi Nilai dan Karakter:
  • Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Menyadari kebesaran Tuhan melalui kompleksitas dan keteraturan makhluk hidup dan alam semesta.
  • Bernalar Kritis: Menganalisis fenomena biologis secara logis, menyusun hipotesis, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti.
  • Kreatif: Mengembangkan ide-ide untuk pemecahan masalah biologis atau menyajikan data dengan cara inovatif.
  • Gotong Royong/Kolaborasi: Bekerja sama dalam praktikum atau proyek penelitian.
  • Kemandirian: Bertanggung jawab dalam proses penyelidikan ilmiah.
  • Komunikasi: Mengemukakan hasil observasi atau eksperimen dengan jelas.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN
  • Berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
  • Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME: Peserta didik mampu mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan pada tingkat seluler sebagai dasar kehidupan.
  • Penalaran Kritis: Peserta didik mampu menganalisis hubungan antara struktur dan fungsi organel sel, serta memecahkan masalah sederhana terkait gangguan pada sel.
  • Kolaborasi: Peserta didik mampu bekerja sama dalam kelompok untuk melakukan pengamatan, diskusi, dan menyusun proyek.
  • Kemandirian: Peserta didik mampu mencari informasi dan memahami konsep sel secara mandiri, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Lebih lengkap modul ajar mapel Biologi kelas 10 SMA bab pertama di atas, dapat teman- teman lihat pada paket modul ajar pembelajaran mendalam (deep learning) Biologi SMA berikut ini. 

pada paket tersebut juga sudah dilampirkan juga modul ajar lengkap deep learning Biologi SMA kelas 10, 11 dan 12 semua bab. Silahkan unduh dokumennya di bawah,

Semoga Bermanfaat 

Salam. 
Contoh Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Sosiologi SMA, Berikut Link Unduhnya

Contoh Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Sosiologi SMA, Berikut Link Unduhnya

Pendekatan pembelajaran mendalam merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam kurikulum merdeka yang menekankan pada pemahaman konsep secara bermakna, analitis, kritis dan aplikatif. Murid dalam hal ini tidak hanya sekedar menghapal, namun dapat mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman nyata, mengenalisis fenomena sosial secara kritis, membuat keputusan berbasis pertimbangan data, dan kemudian menghasilkan karya atau solusi permasalahan untuk masalah- masalah di kehidupannya sehari- hari. 

Ragam Permasalahan Sosial Terkait Pengelompokan Sosial

Pada mapel sosiologi SMA, pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dapat membantu murid dalam memahami realitas sosial di masyarakat dan mampu menerapkan solusi atas permasalahan sosial yang ada. 

Pendekatan deep learning dipandang penting dalam pembelajaran sosiologi di SMA, pasalnya, melalui deep learning, pendekatan pembelajaran dapat meningkatkan kesadaran sosial dalam memahami isu sosial seperti ketimpangan sosial, konflik, dan perubahan sosial. Selain itu, pendekatan ini juga dapat mengasah keterampilan abad ke-21, mendorong empati dan kepedulian sosial serta membentuk sikap untuk mencari solusi atas permasalahan sosial di sekitarnya. 

Strategi penerapan pembelajaran mendalam (deep elarning) dalam mapel sosiologi dapat diterapkan melalui beberapa metode, diantaranya : 
  1. Problem Based Learning (PBL), siswa belajar melalui studi kasus permasalahan sosial.
  2. Project Based Learning (PjBL), siswa membuat proyek sosial, misalnya kampanye kesadaran anti-bullying.
  3. Collaborative Learning, diskusi kelompok mengenai fenomena sosial aktual.
  4. Inquiry Learning, siswa mengumpulkan data dari lingkungan, mewawancarai masyarakat, lalu menganalisisnya dengan teori sosiologi.

Nah, buat teman- teman yang ingin menerapkan pembelajaran mendalam dalam mapel sosiologi, dapat menyusun modul ajar terlebih dahulu dengan mengaplikasikan CP dan ATP dalam rancangan yang dibuat. 

Sebagai contoh, berikut ini, saya berikan rancangan modul ajar sosiologi untuk kelas 10 SMA, Bab pertama, pengantar sosiologi sejarah kelahiran dan perkembangan sosiologi. 

MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : IPS (SOSIOLOGI)
BAB 1 PENGANTAR SOSIOLOGI SEJARAH KELAHIRAN DAN PERKEMBANGAN SOSIOLOGI.

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah
Nama Penyusun : 
Mata Pelajaran : IPS (Sosiologi)
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu  : 4 Pertemuan (4 x 45 menit per pertemuan)
Tahun Pelajaran : 2025/ 2026


B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
  • Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya memiliki pemahaman umum tentang interaksi sosial dan fenomena sosial sederhana dari pengalaman sehari-hari mereka (misalnya, perbedaan perilaku di rumah dan di sekolah, pengaruh teman sebaya, masalah kenakalan remaja). Namun, mereka mungkin belum mengenal Sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu atau tokoh-tokoh pentingnya.
  • Minat: Minat peserta didik bervariasi. Beberapa mungkin tertarik pada isu-isu sosial aktual (misalnya, media sosial, bullying, kesenjangan sosial, dinamika kelompok), sementara yang lain lebih tertarik pada fenomena budaya. Ada juga yang lebih menyukai diskusi, debat, atau analisis kasus.
  • Latar Belakang: Peserta didik berasal dari latar belakang sosial dan budaya yang beragam, yang akan memengaruhi cara mereka memahami fenomena sosial. Pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan kelompok yang berbeda dapat menjadi modal awal.

Kebutuhan Belajar:
  • Visual: Membutuhkan media pembelajaran berupa infografis, video dokumenter singkat tentang perubahan sosial, visualisasi konsep-konsep sosiologi.
  • Auditori: Membutuhkan penjelasan yang jelas, diskusi kelompok, pemutaran rekaman wawancara (jika ada).
  • Kinestetik: Membutuhkan kegiatan simulasi interaksi sosial, role-playing, atau proyek observasi sederhana.
  • Diferensiasi: Beberapa peserta didik mungkin membutuhkan bimbingan lebih intensif dalam memahami pemikiran tokoh sosiologi klasik yang abstrak, sementara yang lain membutuhkan tantangan untuk menghubungkan teori dengan masalah sosial kompleks.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
  • Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (pengertian sosiologi, objek kajian, ciri, fungsi, peran sosiolog, akar sejarah sosiologi), pengetahuan faktual (peristiwa Revolusi Industri dan Revolusi Prancis sebagai pemicu kelahiran sosiologi, nama tokoh-tokoh penting dan pemikirannya), dan pengetahuan prosedural (cara berpikir sosiologis, mengidentifikasi gejala sosial).
  • Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Materi ini sangat relevan karena sosiologi membantu peserta didik memahami diri mereka sebagai bagian dari masyarakat, menganalisis berbagai fenomena sosial di sekitar mereka (mulai dari keluarga, sekolah, hingga isu global), serta mengembangkan empati dan toleransi terhadap perbedaan sosial. Memahami sejarah sosiologi juga membantu mereka menghargai mengapa ilmu ini penting untuk menganalisis masyarakat.
  • Tingkat Kesulitan: Tingkat kesulitan materi cukup moderat. Konsep dasar cenderung mudah dipahami jika dikaitkan dengan contoh konkret. Namun, pemahaman tentang latar belakang sejarah kelahiran sosiologi (Revolusi Industri dan Revolusi Prancis) serta pemikiran tokoh-tokoh klasik memerlukan analisis historis dan filosofis yang lebih dalam.
  • Struktur Materi: Materi tersusun secara kronologis dan logis, dimulai dari pengertian dan karakteristik dasar sosiologi, kemudian menelusuri latar belakang historis kelahirannya, mengenalkan tokoh-tokoh perintis dan pemikirannya, serta diakhiri dengan peran dan fungsi sosiologi dalam kehidupan.

Integrasi Nilai dan Karakter:
  • Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Menyadari kompleksitas ciptaan Tuhan dalam bentuk masyarakat dan pentingnya berinteraksi secara harmonis.
  • Bernalar Kritis: Menganalisis fenomena sosial secara objektif, tidak mudah percaya pada pandangan umum tanpa bukti, dan membuat kesimpulan yang rasional.
  • Kreatif: Mengembangkan ide-ide solusi untuk masalah sosial atau menyajikan analisis sosial dalam bentuk yang menarik.
  • Gotong Royong/Kolaborasi: Bekerja sama dalam kelompok untuk menelaah isu sosial atau merumuskan gagasan.
  • Kemandirian: Bertanggung jawab atas pemahaman mereka tentang masyarakat dan mampu berpikir mandiri.
  • Kewargaan: Memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta berkontribusi positif dalam masyarakat.
  • Komunikasi: Mengemukakan pandangan dan hasil analisis sosial dengan jelas dan santun.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN
  • Berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi, dimensi lulusan pembelajaran yang akan dicapai adalah:
  • Kewargaan: Peserta didik memiliki kesadaran akan peran dan tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat serta mampu memahami berbagai dinamika sosial.
  • Penalaran Kritis: Peserta didik mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi gejala-gejala sosial di sekitarnya dengan menggunakan perspektif sosiologi.
  • Kolaborasi: Peserta didik mampu bekerja sama dalam kelompok untuk mengamati, menganalisis, dan mempresentasikan fenomena sosial.
  • Komunikasi: Peserta didik mampu menyampaikan ide dan hasil analisis tentang fenomena sosial secara jelas dan efektif, baik lisan maupun tulisan.
  • Kemandirian: Peserta didik mampu mencari informasi mandiri tentang isu-isu sosial dan mengembangkan pemahaman pribadi tentang sosiologi.

....

Lebih lengkap modul ajar untuk bab di atas, dapat teman- teman lihat pada paket modul ajar pembelajaran mendalam (deep learning) Sosiologi SMA berikut ini. Oya, pada paket tersebut juga terdapat modul ajar lengkap deep learning Sosiologi SMA kelas 10, 11 dan 12 semua bab. Silahkan unduh dokumennya di bawah, 


Semoga Bermanfaat 

Salam. 
Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Sejarah SMA, Berikut Link Unduhnya

Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Sejarah SMA, Berikut Link Unduhnya

Penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) di mata pelajaran sejarah SMA, dapat menjadi sebuah cara yang baru dalam memahami peristiwa di masa lalu dan mengaitkannya dengan kehidupan di masa sekarang. Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) pada kurikulum merdeka ini akan mendorong siswa agar berpikir secara kritis dan sesuai dengan konteks yang terjadi saat ini. 

Perangkat Pembelajaran Sejarah SMA/ MA

Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) khususnya di mata pelajaran sejarah memiliki beberapa prinsip, salah satu diantaranya berpusat pada pemaknaan, dimana siswa diajak bersama- sama dalam memahami latar belakang, dampak dan keterkaitan peristiwa sejarah di masa lalu dengan masa sekarang. Selain itu, siswa juga diajak untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang memuat unsur analisis, evaluasi dan sintesis dari berbagai pandangan. 

Teman- teman guru, salah satu komponen yang dapat dibuat pertama kali dalam menerapkan pendekatan deep learning di mapel sejarah adalah dengan merancang modul ajar yang sesuai. Dengan berbagai tema sejarah dalam topik bahasan, dapat dikembangkan aktivitas pembelajaran mendalam dengan kompetensi profil lulusan deep learning. 

Sebagai contoh, pada tema pergerakan nasional, siswa dapat membuat peta interaktif tokoh dan organisasi pergerakan kemudian menyebutkan strategi perjuangan yang digunakan pada setiap peristiwa. Adapun kompetensi yang dikembangkan adalah berpikir kritis, kolaborasi dan literasi digital. 

Studi kasus pun dapat dikembangkan sebagai strategi tambahan, misalnya mengadakan simulasi sidang BPUPKI untuk memahami dinamika perumusan dasar negara. Tentunya, hal tersebut dikuatkan dengan bahan- bahan analisis seperti surat, foto, arsip dan rekaman sejarah yang relevan. Tahapan akhir, siswa dapat menulis refleksi tentang bagaimana pandangan mereka tentang sejarah. 

Nah, sebagai contoh penyusunan modul ajar dengan setiap topik bahasan di mapel sejarah, berikut ini saya berikan contoh Modul Ajar sejarah SMA

Berikut contohnya, 

MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : IPS (ILMU SEJARAH)
BAB 1 PENGANTAR ILMU SEJARAH

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah
Nama Penyusun
Mata Pelajaran : IPS (Ilmu Sejarah)
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (4 x 45 menit per pertemuan)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026


B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
  • Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya memiliki pemahaman dasar tentang peristiwa sejarah yang relevan dengan diri mereka (misalnya, tanggal lahir, hari kemerdekaan) atau peristiwa besar yang mereka dengar dari media atau pelajaran sebelumnya (misalnya, kemerdekaan Indonesia, tokoh pahlawan). Namun, pemahaman tentang "apa itu sejarah" sebagai sebuah ilmu dan bagaimana cara mempelajarinya mungkin masih terbatas.
  • Minat: Minat peserta didik terhadap sejarah bervariasi. Beberapa mungkin tertarik pada cerita-cerita heroik, peristiwa-peristiwa penting, atau tokoh sejarah. Ada juga yang lebih menyukai pendekatan visual (film, dokumenter) atau interaktif (diskusi, studi kasus). Beberapa mungkin menganggap sejarah membosankan karena hanya hafalan tanggal dan nama.
  • Latar Belakang: Peserta didik berasal dari latar belakang yang beragam, mempengaruhi perspektif mereka terhadap sejarah. Beberapa mungkin memiliki kisah keluarga yang terkait dengan peristiwa sejarah, atau berasal dari daerah dengan warisan sejarah yang kuat.

Kebutuhan Belajar:
  • Visual: Membutuhkan media pembelajaran berupa gambar, video, infografis garis waktu.
  • Auditori: Membutuhkan penjelasan lisan yang jelas, diskusi kelompok, pemutaran rekaman suara sejarah (jika ada).
  • Kinestetik: Membutuhkan kegiatan simulasi, kunjungan virtual ke museum, atau membuat proyek mini (misalnya, garis waktu).
  • Diferensiasi: Ada peserta didik yang membutuhkan bimbingan lebih intensif dalam menganalisis sumber sejarah, sementara yang lain membutuhkan tantangan lebih untuk eksplorasi dan riset mandiri.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
  • Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (pengertian sejarah, ruang lingkup, unsur, periodisasi, kausalitas, diakronik-sinkronik), pengetahuan faktual (contoh peristiwa sejarah), dan pengetahuan prosedural (cara berpikir sejarah, langkah-langkah penelitian sejarah sederhana).
  • Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Materi ini sangat relevan karena sejarah membantu peserta didik memahami identitas diri dan bangsanya, belajar dari masa lalu untuk masa kini dan masa depan, mengembangkan perspektif kritis terhadap informasi, serta menghargai keragaman budaya dan peradaban. Sejarah juga mengajarkan pentingnya bukti dan interpretasi.
  • Tingkat Kesulitan: Tingkat kesulitan materi cukup moderat. Konsep dasar cenderung mudah dipahami, tetapi penerapan cara berpikir sejarah (misalnya, kausalitas, diakronik-sinkronik) dalam analisis kasus memerlukan penalaran kritis dan latihan.
  • Struktur Materi: Materi tersusun secara hierarkis, dimulai dari pengertian dasar dan hakikat sejarah, kemudian unsur-unsur penting, konsep berpikir sejarah, dan diakhiri dengan periodisasi serta manfaat mempelajari sejarah. Ini memberikan fondasi yang kuat sebelum masuk ke topik sejarah yang lebih spesifik.

Integrasi Nilai dan Karakter:
  • Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Menyadari bahwa setiap peristiwa adalah bagian dari kehendak Tuhan, serta mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu.
  • Bernalar Kritis: Menganalisis sumber sejarah, membedakan fakta dan opini, serta menyusun argumen yang logis.
  • Kreatif: Menyajikan informasi sejarah dalam bentuk yang inovatif dan menarik.
  • Gotong Royong/Kolaborasi: Bekerja sama dalam kelompok untuk menelaah sumber atau menyusun narasi sejarah.
  • Kewargaan: Menghargai perjuangan para pahlawan dan berkontribusi dalam melestarikan warisan sejarah dan budaya bangsa.
  • Komunikasi: Mengemukakan pendapat dan hasil analisis sejarah dengan jelas.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN
  • Penalaran Kritis: Peserta didik mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber sejarah, serta membedakan antara fakta, interpretasi, dan bias.
  • Kreativitas: Peserta didik mampu menyajikan hasil penelitian sejarah sederhana dalam format yang inovatif dan menarik (misalnya, infografis, video pendek, pameran mini).
  • Kemandirian: Peserta didik mampu merencanakan dan melaksanakan tahapan penelitian sejarah sederhana secara mandiri, serta mengambil inisiatif dalam mencari sumber informasi.
  • Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME: Memahami bahwa sejarah adalah bagian dari ciptaan dan takdir Tuhan, serta menghargai perjuangan para pendahulu.

Contoh lengkap Modul Ajar (MA) dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk mapel Sejarah jenjang SMA/ MA kelas 10, 11 dan 12 dapat teman- teman cek melalui dokumen berikut, 


Jangan lupa bagikan ke teman- teman lainnya yaa...

Semoga Bermanfaat 
Salam.

Contoh Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Geografi  SMA, Berikut Link Unduhnya

Contoh Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Geografi SMA, Berikut Link Unduhnya

Pembelajaran mendalam sebagai sebuah pendekatan pembelajaran di kurikulum merdeka dapat diterapkan pada semua mapel, termasuk pada mapel Geografi. Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) di mapel geografi SMA dapat dilakukan dengan menekankan pada pemahaman konsep, keterampilan berpikir kritis, dan menganalisis fenomena ruang dan lingkungan secara kontekstual. 

Geografi SMA

Sebagai contoh penerapannya, teman- teman dapat memberikan pertanyaan pemantik dalam pengajaran di kelas berkaitan dengan subjek yang di bahas kemudian baru menerapkan berbagai aspek yang dituju.

Langkah pertama bagi guru yang ingin menerapkan pembelajaran mendalam (deep learning) di mapel geografi adalah dengan menyusun modul ajar (MA). Melalui modul ajar, guru dapat mendorong pemahaman siswa secara konsep, keterampilan berpikir kritis dan menerapkan nilai- nilai profil pelajar Pancasila secara bersamaan/ 

Untuk menyusun Modul Ajar (MA) Geografi, kita dapat melakukan dengan memperhatikan langkah- langkah berikut ini, 

1. Menentukan Capaian Pembelajaran (CP)
Capaian Pembelajaran (CP) dapat ditentukan dari dokumen Kurikulum Merdeka.

2. Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) 
Alur tujuan pembelajaran (ATP) disusun melalui tujuan pembelajaran yang mengarah ke Capaian Pembelajaran (CP). 

3. Merancang aktivitas pembelajaran mendalam 
Aktivitas pembelajaran mendalam dapat diperoleh melalui pendekatan seperti pendekatan berbasis proyek, studi kasus dan refleksi. Tentunya, hal ini dapat disesuaikan dengan kondisi masing- masing. 

4. Menggunakan sumber belajar yang kontekstual 
Guru dapat menggunakan sumber data secara kontekstual dalam merancang modul ajar geografi berbasis pembelajaran mendalam. Data- data yang berasal dari BPS, citra satelit, artikel dan wawancara dapat dimanfaatkan untuk melengkapi sumber belajar. 

5. Merancang asesmen 
Asesmen dapat diberikan melalui proyek yang mencakup aspek pemahaman konseo, keterampilan berpikir kritis, kolaborasi dan komunikasi serta refleksi nilai dan sikap. 

Sebagai contoh untuk teman- teman guru, berikut ini contoh modul pembelajaran mendalam (deep learning) mapel geografi SMA yang dapat dicermati. 

MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : IPS (GEOGRAFI)
BAB 1 - PENGETAHUAN DASAR GEOGRAFI



A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah
Nama Penyusun
Mata Pelajaran : IPS (Geografi)
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (4 x 45 menit per pertemuan)
Tahun Pelajaran : 2025/ 2026


B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
  • Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya memiliki pemahaman dasar tentang lingkungan sekitar dan beberapa konsep geografis sederhana (misalnya, peta, arah mata angin) yang didapatkan dari jenjang SMP atau pengetahuan umum. Beberapa mungkin sudah terpapar berita atau informasi terkait isu-isu geografis global (perubahan iklim, bencana alam).
  • Minat: Minat peserta didik bervariasi. Beberapa mungkin tertarik pada isu lingkungan, perjalanan, atau teknologi geospasial. Ada juga yang lebih menyukai pendekatan visual dan interaktif.
  • Latar Belakang: Peserta didik berasal dari latar belakang yang beragam, baik sosial ekonomi maupun pengalaman belajar. Beberapa mungkin memiliki pengalaman langsung dengan fenomena geografis di lingkungan tempat tinggalnya, sementara yang lain mungkin lebih banyak belajar dari media.

Kebutuhan Belajar:
  • Visual: Membutuhkan media pembelajaran berupa gambar, video, peta, infografis.
  • Auditori: Membutuhkan penjelasan lisan yang jelas, diskusi kelompok, presentasi.
  • Kinestetik: Membutuhkan kegiatan praktik, simulasi, atau proyek berbasis lapangan (jika memungkinkan).
  • Diferensiasi: Ada peserta didik yang membutuhkan bimbingan lebih intensif, sementara yang lain membutuhkan tantangan lebih untuk eksplorasi mandiri.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (pengertian geografi, objek studi, prinsip, aspek, pendekatan), pengetahuan faktual (contoh fenomena geografis), dan pengetahuan prosedural (cara berpikir geografis, penerapan konsep dalam analisis sederhana).
Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Materi ini sangat relevan karena geografi membantu peserta didik memahami lingkungan sekitar, interaksi manusia dengan alam, serta berbagai isu global seperti urbanisasi, bencana alam, sumber daya, dan perubahan iklim yang memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

Tingkat Kesulitan: Tingkat kesulitan materi bervariasi. Konsep dasar cenderung mudah dipahami, tetapi penerapan prinsip dan pendekatan geografi dalam analisis kasus nyata memerlukan penalaran kritis dan pemahaman yang lebih mendalam.
Struktur Materi: Materi tersusun secara hierarkis, dimulai dari pengertian dasar, ruang lingkup, kemudian objek, prinsip, aspek, dan pendekatan geografi. Ini memberikan fondasi yang kuat sebelum masuk ke topik geografi yang lebih spesifik.

Integrasi Nilai dan Karakter:
  • Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Menyadari kebesaran Tuhan sebagai pencipta alam semesta dan isinya, serta menjaga kelestarian lingkungan.
  • Bernalar Kritis: Menganalisis informasi geografis secara objektif dan membuat kesimpulan yang rasional.
  • Kreatif: Mengembangkan ide-ide baru dalam memecahkan masalah geografis atau menyajikan informasi.
  • Gotong Royong/Kolaborasi: Bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas.
  • Mandiri: Bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya.
  • Berkebinekaan Global: Menghargai keragaman fenomena geografis dan budaya di berbagai belahan dunia.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN
Berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
  • Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME dan Berakhlak Mulia
  • Penalaran Kritis
  • Kreativitas
  • Kolaborasi
  • Kemandirian
  • Komunikasi

....

Contoh lengkap Modul Ajar (MA) dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk mapel Geografi jenjang SMA/ MA kelas 10, 11 dan 12 dapat teman- teman cek melalui dokumen berikut, 


Jangan lupa bagikan ke teman- teman lainnya yaa...

Semoga Bermanfaat 
Salam.

Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) IPS Ekonomi  SMA, Contoh dan Link Unduh

Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) IPS Ekonomi SMA, Contoh dan Link Unduh

Deep learning sebagai sebuah pendekatan pembelajaran di kurikulum merdeka dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran, termasuk pada mapel IPS Ekonomi di jenjang SMA. Melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), pembelajaran IPS Ekonomi yang sebelumnya identik dengan hafalan, menjadi pembelajaran yang bermakna, berkesadaran dan menyenangkan.

IPS  

Selain itu, pembelajaran juga akan berkaitan dengan pengetahuan dan pengalaman di dunia nyata. Sebagai hasilnya, siswa akan dapat berpikir secara kritis dan reflektif serta dapat berkolaborasi dalam memecahkan masalah secara kreatif. 

Nah, bagaimana guru merancang pendekatan deep learning dalam pelajaran IPS Ekonomi di jenjang SMA? Salah satu langkahnya, 
Guru dapat merancang pembelajaran yang berbasis masalah secara kontekstual dengan cara mengembangkan CP dan ATP yang kemudian diaplikasikan ke dalam modul ajar. 

Sebagai contoh, berikut ini hasil modul ajar dengan pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) untuk mapel IPS Ekonomi SMA, 

MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : ILMU EKONOMI
BAB 1 KONSEP ILMU EKONOMI



A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah .....................................................................................
Nama Penyusun .....................................................................................
Mata Pelajaran Ilmu Ekonomi
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu 2 Pertemuan (masing-masing 90 menit)
Tahun Pelajaran 2025 / 2026


B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
  • Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya memiliki pemahaman dasar tentang kebutuhan dan keinginan, serta keterbatasan sumber daya dalam kehidupan sehari-hari (misalnya, uang jajan yang terbatas, pilihan membeli barang). Beberapa mungkin sudah terpapar berita ekonomi ringan dari media sosial atau lingkungan sekitar.
  • Minat: Peserta didik cenderung tertarik pada hal-hal yang relevan dengan kehidupan mereka, seperti bagaimana cara mengelola uang, mengapa harga suatu barang naik, atau bagaimana keputusan ekonomi memengaruhi mereka. Minat akan meningkat jika materi disajikan secara interaktif dan terkait dengan isu-isu terkini.
  • Latar Belakang: Peserta didik berasal dari berbagai latar belakang ekonomi keluarga. Penting untuk mengakomodasi ini dengan memberikan contoh-contoh yang beragam dan tidak diskriminatif.

Kebutuhan Belajar:
  • Visual: Membutuhkan infografis, video, atau ilustrasi untuk memahami konsep abstrak.
  • Auditori: Membutuhkan penjelasan lisan yang jelas dan kesempatan untuk berdiskusi.
  • Kinestetik: Membutuhkan aktivitas yang melibatkan gerak atau praktik langsung (misalnya, simulasi, permainan peran).
  • Diferensiasi: Beberapa peserta didik mungkin memerlukan bimbingan lebih, sementara yang lain dapat berakselerasi dengan tugas yang lebih menantang.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
  • Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai: Konseptual (pemahaman tentang kelangkaan, kebutuhan, keinginan, biaya peluang, prinsip ekonomi, motif ekonomi, tindakan ekonomi), prosedural (mengidentifikasi masalah ekonomi, menganalisis pilihan), dan metakognitif (merefleksikan keputusan ekonomi pribadi).
  • Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Materi ini sangat relevan karena setiap individu, termasuk peserta didik, dihadapkan pada masalah kelangkaan dan harus membuat pilihan setiap hari (misalnya, memilih antara membeli buku pelajaran atau menonton film, memilih jurusan sekolah, atau menggunakan waktu luang).
  • Tingkat Kesulitan: Cukup kompleks karena melibatkan konsep-konsep abstrak, namun dapat disederhanakan dengan contoh-contoh konkret dan relevan. Tingkat kesulitan dapat disesuaikan melalui diferensiasi.
  • Struktur Materi: Dimulai dari masalah dasar ekonomi (kelangkaan dan kebutuhan), kemudian dilanjutkan dengan konsep-konsep solusi seperti pilihan, biaya peluang, prinsip, motif, dan tindakan ekonomi.
  • Integrasi Nilai dan Karakter: Integritas (jujur dalam mengambil keputusan ekonomi), Tanggung Jawab (bertanggung jawab atas pilihan dan konsekuensinya), Mandiri (mampu membuat keputusan ekonomi secara rasional), Kreatif (mencari alternatif solusi atas kelangkaan), Peduli (mempertimbangkan dampak keputusan ekonomi pada orang lain/lingkungan).

D DIMENSI PROFIL LULUSAN
  • Penalaran Kritis: Peserta didik mampu menganalisis masalah kelangkaan, mengidentifikasi pilihan, dan mempertimbangkan biaya peluang.
  • Kreativitas: Peserta didik dapat mengusulkan berbagai alternatif solusi untuk mengatasi masalah kelangkaan.
  • Kolaborasi: Peserta didik bekerja sama dalam diskusi kelompok untuk memecahkan masalah ekonomi.
  • Kemandirian: Peserta didik dapat membuat keputusan ekonomi secara rasional dan bertanggung jawab.
  • Komunikasi: Peserta didik mampu mengemukakan ide dan argumen tentang konsep ekonomi secara jelas.
....

Contoh lengkap Modul Ajar (MA) dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk mapel IPS Ekonomi jenjang SMA/ MA kelas 10, 11 dan 12 dapat teman- teman cek melalui dokumen berikut, 


Jangan lupa bagikan ke teman- teman lainnya yaa...

Semoga Bermanfaat 
Salam.

Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Bahasa Inggris SMA, Contoh dan Link Unduh

Modul Ajar (MA) Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Bahasa Inggris SMA, Contoh dan Link Unduh

Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) pada mata pelajaran bahasa Inggris di jenjang SMA bertujuan untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, berkesadaran dan menyenangkan. Pembelajaran tidak hanya menekankan pada pemahaman grammar atau vocabulary saja namun menuntun siswa untuk menerapkannya ke dalam konteks kehidupan mereka sehari- hari. 

Bahasa Inggris
AhzaaNet

Prinsip utama dalam pembelajaran mendalam (deep learning) Bahasa Inggris SMA yang mencakup pembelajaran bermakna (meaningful learning), pembelajaran berkesadaran (mindful learning) dan pembelajaran menyenangkan (joyful learning) dapat dipadukan dengan proses berpikir kritis dan kreatif serta adanya kolaborasi satu dengan lainnya. 

Buat teman- teman guru yang mengajar bahasa Inggris di jenjang SMA, adalah sebuah tantangan untuk dapat menciptakan pembelajaran yang melingkupi tiga prinsip dasar dari deep learning. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan membuat rancangan pembelajaran melalui modul ajar di kelas. 

Modul ajar untuk mapel Bahasa Inggris dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dapat diformulasikan dengan menambah beberapa aspek profil lulusan yang mencakup keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan dan Komunikasi. 

Nah, sebagai contoh, disini sudah saya siapkan modul ajar untuk mapel Bahasa Inggris jenjang SMA kelas 10 dengan topik bahasan bab pertama yaitu tentang Great Athlete. 

MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : BAHASA INGGRIS
BAB 1 :  GREAT ATHLETES

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah ….
Nama Penyusun ….
Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu 8 jp 
Tahun Pelajaran 2024 / 2025


B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Pengetahuan Awal:
  • Beberapa peserta didik mungkin sudah memiliki pengetahuan dasar tentang berbagai cabang olahraga dan atlet terkenal melalui media sosial, berita, atau pengalaman pribadi menonton pertandingan.
  • Peserta didik mungkin memiliki kosakata dasar terkait olahraga dan deskripsi fisik dalam bahasa Inggris.
  • Sebagian peserta didik mungkin sudah memiliki pengalaman dalam mendeskripsikan orang atau benda dalam bahasa Inggris, meskipun mungkin masih terbatas.

Minat:
  • Mayoritas peserta didik pada usia SMA/SMK memiliki minat yang tinggi terhadap olahraga, terutama sepak bola, bulu tangkis, atau olahraga populer lainnya di Indonesia.
  • Minat terhadap kisah inspiratif atau biografi atlet berprestasi juga cenderung tinggi.
  • Peserta didik mungkin termotivasi untuk belajar bahasa Inggris jika materi pelajaran dikaitkan dengan minat mereka.

Latar Belakang:
  • Peserta didik berasal dari latar belakang yang beragam, baik dari segi kemampuan berbahasa Inggris maupun akses terhadap sumber belajar.
  • Beberapa peserta didik mungkin lebih terbiasa dengan gaya belajar visual, sementara yang lain mungkin lebih nyaman dengan auditori atau kinestetik.

Kebutuhan Belajar:
  • Peserta didik dengan kemampuan bahasa Inggris dasar membutuhkan dukungan dan scaffolding yang lebih banyak dalam memahami instruksi dan menghasilkan output berbahasa Inggris.
  • Peserta didik yang lebih mahir membutuhkan tantangan yang lebih kompleks untuk mengembangkan kemampuan mereka lebih jauh.
  • Semua peserta didik membutuhkan kesempatan untuk berlatih berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis dalam konteks yang relevan dan menarik.
  • Perlu adanya diferensiasi dalam penyampaian materi dan tugas untuk mengakomodasi berbagai tingkat kesiapan dan gaya belajar.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:
  • Pengetahuan Faktual: Nama-nama atlet berprestasi, cabang olahraga, tanggal lahir, prestasi.
  • Pengetahuan Konseptual: Konsep teks deskriptif (fungsi sosial, struktur generik, ciri kebahasaan), gagasan utama, informasi terperinci, makna inferensial.
  • Pengetahuan Prosedural: Strategi mengidentifikasi informasi dari teks lisan dan tulis, strategi menemukan gagasan utama, strategi mencari makna inferensial, langkah-langkah membuat teks deskriptif lisan dan tulis.
  • Pengetahuan Metakognitif: Kesadaran akan proses belajarnya sendiri, kemampuan merefleksikan pemahaman.

Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik:
  • Materi ini sangat relevan karena olahraga dan atlet berprestasi merupakan bagian integral dari budaya populer dan kehidupan sehari-hari peserta didik.
  • Peserta didik sering berinteraksi dengan informasi tentang atlet melalui media sosial, berita, atau diskusi dengan teman.
  • Kemampuan mendeskripsikan orang dan peristiwa adalah keterampilan komunikasi dasar yang berguna dalam berbagai konteks kehidupan.
  • Tingkat Kesulitan:
  • Materi ini memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi. Pengenalan kosakata dasar dan identifikasi informasi eksplisit relatif mudah. Namun, memahami makna inferensial, mengorganisir gagasan, dan memproduksi teks deskriptif yang koheren membutuhkan tingkat kognitif yang lebih tinggi.
Teks deskriptif lisan dan tulis multimoda akan meningkatkan kompleksitas pemahaman dan produksi.

Struktur Materi:
  • Bab ini terstruktur secara progresif, dimulai dari pengenalan topik melalui gambar dan diskusi, diikuti dengan kegiatan mendengarkan dan mengidentifikasi informasi, kemudian membaca dan menganalisis teks, dan diakhiri dengan kegiatan produksi (menulis dan berbicara).
  • Setiap task memiliki tujuan pembelajaran spesifik yang mendukung tujuan pembelajaran bab secara keseluruhan.

Integrasi Nilai dan Karakter:
  • Kemandirian: Peserta didik didorong untuk mencari informasi tentang atlet favorit mereka, menuliskan informasi tersebut, dan merevisi tulisan secara mandiri.
  • Kolaborasi: Banyak kegiatan melibatkan kerja kelompok atau berpasangan, seperti diskusi, permainan tanya jawab, dan peer review.
  • Penalaran Kritis: Peserta didik diajak untuk menjawab pertanyaan pemantik, menganalisis mengapa seorang atlet menjadi hebat, dan menyimpulkan informasi berdasarkan bukti.
  • Kreativitas: Peserta didik diberi kebebasan untuk menggambar atlet dan memilih media untuk mempublikasikan tulisan mereka.
  • Integritas (Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan): Kisah-kisah atlet yang berjuang mengatasi rintangan (terutama pada bagian pengayaan tentang Paralimpiade) dapat menginspirasi peserta didik untuk memiliki ketekunan, optimisme, dan rasa syukur. Sikap-sikap mulia atlet seperti kerendahan hati dan kemurahan hati (seperti contoh Cristiano Ronaldo yang disebutkan dalam transkrip) juga dapat menjadi teladan.
  • Kewargaan: Mengidentifikasi atlet nasional dan internasional dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap bangsa dan menghargai keberagaman budaya.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN
Berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
  • Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia: Melalui kisah inspiratif atlet berprestasi, peserta didik dapat menumbuhkan nilai-nilai seperti ketekunan, kerja keras, dan rasa syukur. Contoh kemurahan hati dan kerendahan hati atlet juga dapat menjadi teladan.
  • Penalaran Kritis: Peserta didik akan dilatih untuk mengidentifikasi gagasan utama, informasi terperinci, dan mencari makna inferensial dari teks, serta memberikan alasan sederhana atas pendapat mereka.
  • Kreativitas: Peserta didik akan didorong untuk menghasilkan gambar berdasarkan deskripsi lisan dan memilih media presentasi tulisan mereka.
  • Kolaborasi: Berbagai aktivitas pembelajaran dirancang untuk kerja kelompok dan berpasangan, seperti diskusi, permainan tebak atlet, dan peer review.
  • Kemandirian: Peserta didik akan belajar untuk mencari informasi secara mandiri, menyusun ide, dan merefleksikan pembelajaran mereka.
  • Komunikasi: Fokus utama bab ini adalah memproduksi teks deskriptif lisan dan tulis multimoda. Peserta didik akan berlatih berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis dalam bahasa Inggris.
....



Contoh lengkap Modul Ajar (MA) dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk mapel Bahasa Inggris jenjang SMA/ MA kelas 10, 11 dan 12 dapat teman- teman cek melalui dokumen berikut, 


Jangan lupa bagikan ke teman- teman lainnya yaa...

Semoga Bermanfaat 
Salam.

Contoh Modul Ajar (MA) Deep Learning PJOK Kelas 10, 11, dan 12 SMA/ MA/ SMK, Berikut Link Unduhnya

Contoh Modul Ajar (MA) Deep Learning PJOK Kelas 10, 11, dan 12 SMA/ MA/ SMK, Berikut Link Unduhnya

Mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) seringkali dipandang sebagai mata pelajaran yang berfokus pada aktivitas fisik saja. Sebenarnya, aspek kognitif dan afektif dalam pembelajaran PJOK juga dapat digali lebih dalam tanpa mengabaikannya. 

MA Deep Learning PJOK SMA


Pada pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) dapat menyelaraskan aktivitas fisik dan pemahaman secara menyeluruh aspek kognitif dan  afektif. 

Penerapan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dalam mapel PJOK di jenjang SMA dilakukan dengan menekankan kepada siswa bahwa mereka mengetahui makna aktivitas fisik yang dilakukan, bukan hanya sekedar melakukannya. Selain itu, siswa mampu menganalisis dampak olahraga terhadap kesehatan fisik dan mental serta bagaimana menerapkan kebiasaan hidup yang sehat di kehidupan sehari- hari. 

Oleh karena itu, sebagai guru PJOK, penyusunan modul ajar dapat menjadi langkah pertama dalam menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) pada setiap pokok bahasan di mapel PJOK.

Sebagai contoh, teman- teman dapat melihat sampel Modul Ajar PJOK dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) berikut ini, 

MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PJOK
BAB 1 :  PERMAINAN BOLA BASKET

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah :
Nama Penyusun :
Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga, & Kesehatan (PJOK)
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu 9 Jam Pelajaran (JP) (3 Pertemuan)
Tahun Pelajaran 2024 / 2025

B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
  • Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya sudah memiliki pengalaman bermain berbagai jenis bola (sepak bola, voli, futsal) di lingkungan sekolah atau rumah. Beberapa mungkin sudah familiar dengan aturan dasar bola basket atau pernah mencoba teknik-teknik dasarnya melalui kegiatan non-formal. Tingkat kebugaran fisik dan koordinasi motorik akan bervariasi.
  • Minat: Minat peserta didik terhadap bola basket cenderung tinggi, mengingat popularitas olahraga ini di kalangan remaja melalui media massa dan kompetisi. Minat dapat ditingkatkan dengan mengaitkan pembelajaran dengan idola olahraga, strategi tim, atau tantangan personal.
  • Latar Belakang: Peserta didik berasal dari berbagai latar belakang, baik dalam pengalaman olahraga formal maupun non-formal. Ada yang aktif di klub olahraga, ada pula yang hanya bermain sesekali.

Kebutuhan Belajar:
  • Visual: Membutuhkan demonstrasi gerakan yang jelas dari guru atau video tutorial profesional.
  • Auditori: Membutuhkan penjelasan instruksi, coaching verbal, dan feedback dari guru atau teman.
  • Kinestetik/Praktik: Membutuhkan banyak waktu untuk berlatih langsung, mencoba berbagai teknik, dan berpartisipasi dalam permainan.
  • Siswa Kesulitan: Membutuhkan koreksi teknik secara personal, latihan berulang dengan intensitas rendah, dan dukungan dari teman sebaya.
  • Siswa Cepat Belajar (Advanced): Membutuhkan tantangan berupa variasi teknik yang lebih kompleks, peran sebagai leader dalam drill, atau strategi permainan yang lebih mendalam.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:
  • Konseptual: Memahami prinsip-prinsip dasar permainan bola basket (tujuan, dimensi lapangan, jumlah pemain, aturan umum), serta konsep gerak dasar dan kombinasi keterampilan.
  • Prosedural (Keterampilan Gerak): Mampu melakukan teknik dasar bola basket (passing: chest pass, bounce pass, overhead pass; dribbling; shooting) dengan koordinasi dan mekanika gerak yang benar.
  • Aplikasi/Pemecahan Masalah: Mampu mengaplikasikan teknik dasar dalam situasi permainan sederhana, mengambil keputusan taktis, dan berkolaborasi dalam tim.
  • Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Bola basket adalah olahraga populer yang dapat menjadi sarana untuk menjaga kebugaran fisik, mengembangkan keterampilan sosial (kerjasama tim, kepemimpinan, sportivitas), dan mengisi waktu luang secara positif. Konsep strategi dan pengambilan keputusan dalam permainan juga dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
  • Tingkat Kesulitan: Tingkat kesulitan materi ini bervariasi. Penguasaan teknik dasar membutuhkan koordinasi, kekuatan, dan ketekunan dalam berlatih. Mengaplikasikan teknik dalam situasi permainan yang dinamis lebih sulit karena membutuhkan keputusan cepat dan kerjasama tim. Miskonsepsi dapat terjadi pada aturan permainan atau mekanisme gerak yang salah.

Struktur Materi:
  1. Pengenalan Permainan Bola Basket (sejarah singkat, peraturan dasar, ukuran lapangan).
  2. Teknik Dasar Bola Basket:
  • Passing (Chest Pass, Bounce Pass, Two-Handed Overhead Pass).
  • Dribbling (Dribbling Rendah, Dribbling Tinggi, Dribbling Zig-zag).
  • Shooting (Lay-up, Jump Shot – jika memungkinkan).
  • Kombinasi Gerak Dasar dalam Permainan Sederhana.

Nilai-nilai Karakter dalam Permainan Bola Basket.
  • Integrasi Nilai dan Karakter (Profil Pelajar Pancasila):
  • Kesehatan: Menjaga kebugaran fisik dan kesehatan tubuh melalui aktivitas olahraga.
  • Kolaborasi (Gotong Royong): Bekerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan (memasukkan bola ke ring lawan, mempertahankan area).
  • Penalaran Kritis: Menganalisis situasi permainan, mengambil keputusan taktis (kapan harus passing, dribbling, atau shooting), dan mengevaluasi performa diri/tim.
  • Kemandirian: Berlatih teknik secara mandiri, mengambil inisiatif dalam permainan.
  • Komunikasi: Komunikasi verbal dan non-verbal dalam tim saat bermain.
  • Sportivitas/Keimanan dan Ketakwaan (Penguatan Karakter): Mengamalkan nilai-nilai sportivitas (jujur, adil, menghargai lawan dan keputusan wasit), disiplin, dan tanggung jawab.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN
Berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
  1. Kesehatan: Siswa akan meningkatkan kebugaran jasmani dan pemahaman tentang pentingnya aktivitas fisik.
  2. Kolaborasi: Siswa akan secara aktif bekerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan permainan, belajar menghargai peran setiap anggota.
  3. Penalaran Kritis: Siswa akan mengembangkan kemampuan menganalisis situasi permainan, merencanakan strategi, dan mengambil keputusan cepat di lapangan.
  4. Kemandirian: Siswa akan berlatih dan mengembangkan keterampilan motorik secara personal, serta mengambil inisiatif dalam permainan.
  5. Komunikasi: Siswa akan berlatih komunikasi verbal dan non-verbal yang efektif dalam konteks permainan tim.
  6. Kewargaan: Mengamalkan nilai-nilai sportivitas, jujur, dan bertanggung jawab sebagai bagian dari komunitas.
....



Contoh lengkap Modul Ajar (MA) dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk mapel PJOK jenjang SMA/ MA/ SMK kelas 10, 11 dan 12 dapat teman- teman cek melalui dokumen berikut, 


Jangan lupa bagikan ke teman- teman lainnya yaa...

Semoga Bermanfaat 
Salam.

Modul Ajar Deep Learning Informatika Kelas 10, 11, dan 12 SMA/ MA, Contoh dan Link Downloadnya

Modul Ajar Deep Learning Informatika Kelas 10, 11, dan 12 SMA/ MA, Contoh dan Link Downloadnya

Pembelajaran Mendalam (deep learning) merupakan pendekatan yang pada kurikulum merdeka yang berfokus pada kompetensi dengan pembelajaran kontekstual dan berbasis projek berdasarkan profil pelajar Pancasila secara nyata. Dalam penerapannya, siswa akan didorong untuk dapat memahami materi secara menyeluruh, tidak hanya sekedar menghafal saja. 

Informatika SMA/MA

Konteks pembelajaran mendalam di mapel Informatika SMA tidak hanya berkutat tentang kecerdasan buatan (AI), namun juga berfokus pada pendekatan kepada siswa untuk dapat berpikir kritis dan kreatif terhadap konsep- konsep digital dan komputasional. 

Sebagai guru, merancang modul ajar berbasis pembelajaran mendalam (deep learning) dapat dilakukan dengan menambahkan beberapa aspek yang dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis. Selain itu, modul ajar juga dapat menantang siswa dalam menggali makna, menghubungkan konsep serta menerapkan pengetahuan dalam situasi di kehidupan mereka sehari- hari. 

Untuk merancang modul ajar dengan basis pembelajaran mendalam (deep learning), dapat dilakukan langkah- langkah sebagai berikut : 

1. Menentukan tujuan pembelajaran yang bermakna
Pada tahapan ini, teman- teman dapat menggunakan acuan ATP dengan memfokuskan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dalam hal analisis, evaluasi dan kreasi. Tambahkan juga dimensi profil lulusan yang sesuai seperti bernalar kritis, kreatif, dan mandiri. 

2. Mengidentifikasi konteks dan permasalahan nyata 
Teman- teman guru dapat memilih isu atau tantangan yang sesuai dengan kehidupan siswa sehari- hari, misalnya penerapan teknologi tepat guna dalam memecahkan permasalahan sederhana di lingkungan mereka. 

3. Merancang aktifitas yang sifatnya menantang dan reflektif 
Guru dapat menggunakan pendekatan terkait hal ini, seperti project based learning atau problem based learning. Aktivitas yang dibuat dapat menantang siswa dalam mengeksplorasi diri melalui diskusi dan refleksi. 

4. Menyusun struktur modul ajar yang ditentukan 

5. Menggunakan sumber belajar yang sesuai dan interaktif 
Guru dapat menggunakan sumber belajar yang kaya dan interaktif seperti platform digital, simulasi, video dan sebagainya. 

Nah, sebagai gambaran modul ajar informatika untuk teman- teman guru, berikut ini contoh modul ajar informatika SMA yang dapat dijadikan tambahan referensi. 

MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : INFORMATIKA
BAB 1 :  INFORMATIKA DAN KEMAMPUAN UMUM


A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah
Nama Penyusun
Mata Pelajaran : Informatika
Kelas / Fase /Semester : X/ E / Ganjil
Alokasi Waktu : 8 Jam Pelajaran (JP)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026


B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya sudah akrab dengan penggunaan gawai (ponsel, tablet, laptop) dan internet dalam kehidupan sehari-hari (media sosial, pencarian informasi, hiburan). Beberapa mungkin sudah memiliki pengalaman dasar dalam membuat presentasi digital atau menggunakan aplikasi kolaborasi sederhana. Mereka mungkin belum memiliki pemahaman mendalam tentang konsep dasar Informatika seperti berpikir komputasional atau pentingnya kerja tim dalam konteks proyek digital.
  • Minat: Minat peserta didik akan bervariasi. Sebagian besar mungkin tertarik pada aspek praktis penggunaan teknologi, namun perlu dibangkitkan minatnya terhadap prinsip-prinsip di baliknya dan pentingnya kemampuan umum. Minat dapat ditingkatkan dengan mengaitkan materi dengan tren teknologi (AI, IoT) dan profesi di bidang Informatika.
  • Latar Belakang: Peserta didik berasal dari berbagai latar belakang, baik dalam akses teknologi maupun tingkat literasi digital. Beberapa mungkin sudah terbiasa dengan lingkungan kolaboratif, sementara yang lain lebih individual.
Kebutuhan Belajar:
  • Visual: Membutuhkan infografis, video, dan simulasi untuk memahami konsep-konsep abstrak seperti berpikir komputasional atau tahapan proyek.
  • Auditori: Membutuhkan penjelasan konsep, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab.
  • Kinestetik/Praktik: Membutuhkan kegiatan langsung berupa proyek kelompok, simulasi kerja, dan penggunaan aplikasi kolaborasi.
  • Siswa Kesulitan: Membutuhkan bimbingan lebih terarah dalam memahami setiap tahapan proyek atau penggunaan fitur aplikasi.
  • Siswa Cepat Belajar (Advanced): Membutuhkan tantangan tambahan berupa masalah yang lebih kompleks, peran kepemimpinan dalam kelompok, atau eksplorasi fitur-fitur lanjutan dari aplikasi yang digunakan.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:
  • Konseptual: Memahami definisi dan pentingnya kemampuan umum (generic skills) dalam Informatika, seperti berpikir komputasional (dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, algoritma), kolaborasi, komunikasi, dan perencanaan.
  • Prosedural: Mampu merencanakan kerja kelompok, mengorganisasikan tugas, dan mengimplementasikan alur kerja dalam proyek sederhana. Mampu menggunakan alat bantu digital untuk presentasi dan visualisasi data.
  • Aplikasi/Pemecahan Masalah: Menerapkan kemampuan umum untuk menyelesaikan permasalahan sederhana secara kolaboratif, serta mengkomunikasikan ide dan hasil kerja secara efektif.
  • Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Materi ini sangat relevan karena kemampuan umum ini adalah fondasi yang dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik akademik, sosial, maupun profesional di era digital. Siswa akan belajar bagaimana berkolaborasi dalam tugas sekolah, merencanakan kegiatan ekstrakurikuler, hingga mempersiapkan diri untuk dunia kerja yang membutuhkan keterampilan abad 21. Konsep berpikir komputasional juga relevan dalam memecahkan masalah sehari-hari.
  • Tingkat Kesulitan: Tingkat kesulitan materi ini bervariasi. Konsep dasar kemampuan umum mungkin mudah dipahami secara teoritis, namun penerapannya dalam praktik (terutama kerja kelompok dan komunikasi efektif) membutuhkan latihan dan bimbingan. Konsep berpikir komputasional mungkin abstrak bagi sebagian siswa.
Struktur Materi:
  • Bekerja dalam Kelompok: Pentingnya kerja kelompok, perencanaan, pembagian peran.
  • Berpikir Komputasional: Dekomposisi, Pengenalan Pola, Abstraksi, Algoritma.
  • Komunikasi: Presentasi, visualisasi (infografis, poster, artefak komputasional).

Integrasi Nilai dan Karakter:
  • Penalaran Kritis: Menganalisis masalah, mengidentifikasi solusi, mengevaluasi efektivitas strategi kerja.
  • Kreativitas: Mendorong siswa untuk menciptakan presentasi dan visualisasi yang menarik dan efektif.
  • Kolaborasi: Membiasakan siswa untuk bekerja sama, menghargai perbedaan, dan mencapai tujuan bersama.
  • Kemandirian: Mendorong siswa untuk mengambil tanggung jawab pribadi dalam tim dan mencari solusi secara mandiri.
  • Komunikasi: Melatih siswa untuk menyampaikan ide dan hasil kerja secara jelas, baik lisan maupun visual.
  • Tanggung Jawab: Mengajarkan pentingnya menyelesaikan tugas yang diberikan dalam kelompok.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN
Berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
  • Penalaran Kritis: Siswa akan menganalisis studi kasus terkait kerja kelompok dan komunikasi, serta mengevaluasi efektivitas solusi yang mereka kembangkan. Mereka juga akan menerapkan berpikir komputasional untuk memecahkan masalah.
  • Kreativitas: Siswa didorong untuk menghasilkan ide-ide baru dalam perencanaan proyek dan desain visualisasi hasil kerja (infografis, presentasi).
  • Kolaborasi: Ini adalah inti dari bab ini, siswa akan aktif bekerja sama dalam kelompok untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek.
  • Kemandirian: Setiap anggota kelompok diharapkan mengambil tanggung jawab dan menyelesaikan bagian tugasnya secara mandiri, meskipun dalam konteks tim.
  • Komunikasi: Siswa akan berlatih mengkomunikasikan ide, proses, dan hasil kerja mereka secara lisan (presentasi) dan visual (infografis/artefak).
.....



Selengkapnya, Modul Ajar (MA) dengan Pendekatan Mendalam (Deep Learning) untuk mapel Informatika jenjang SMA/ MA kelas 10, 11 dan 12 dapat teman- teman cek melalui dokumen berikut, 


Jangan lupa bagikan ke teman- teman lainnya yaa...

Semoga Bermanfaat 
Salam.

Butuh Modul Ajar Deep Learning Matematika SMA Yuk Merapat, Ini Contoh dan Link Unduhnya

Butuh Modul Ajar Deep Learning Matematika SMA Yuk Merapat, Ini Contoh dan Link Unduhnya

Pendekatan Pembelajaran (deep learning) merupakan pendekatan yang mulai diterapkan di tahun ajaran baru 2025/ 2026 ini. Pendekatan ini hanya menambahkan beberapa aspek profil lulusan diantaranya keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan dan Komunikasi.

Modul Ajar Deep Learning Matematika SMA


Dalam pelajaran matematika, pendekatan ini menjembatani siswa untuk belajar melalui masalah yang kontekstual seperti dalam hal bahasan konsep geometri, logika dan estimasi serta bagaimana menyelesaikan penghitungan luas suatu lahan. 

Selain itu, pendekatan ini dapat mendorong siswa untuk menjelaskan bagaimana metode penyelesaian yang efektif dapat diterapkan misalnya dalam pokok bahasan persamaan. 

Pendekatan ini juga memberikan ruang untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, misalnya pemanfaatan aplikasi pembelajaran seperti Geogebra untuk eksplorasi visual.   

Sebagai hasil akhir, siswa juga memiliki kemampuan dalam menulis misalnya menulis jurnal tentang bagaimana mereka memahami suatu konsep yang membantu mereka dalam menyadari proses berpikir dan memperkuat pemahaman. 

Sebagai guru, teman- teman dapat merancang pembelajaran melalui Modul Ajar yang dikembangkan dari CP dan ATP. Dengan menambahkan beberapa aspek profil lulusan Pembelajaran Mendalam (deep learning) dalam Modul Ajar, tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik. 

Nah, berikut ini contoh Modul Ajar Matematika untuk jenjang SMA dengan memakai pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Kita ambil contoh untuk bab pertama tentang eksponen. 

MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : MATEMATIKA
BAB 1 : EKSPONEN

A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah :
Nama Penyusun :
Mata Pelajaran : Matematika
Fase / Kelas /Semester: E / X / Ganjil
Topik :
A. Definisi Eksponen
B. Sifat-Sifat Eksponen
C. Fungsi Eksponensial
D. Bentuk Akar

Alokasi Waktu 12 Jam Pelajaran (JP) @ 45 menit (4 pertemuan)
Tahun Pelajaran 2025 / 2026

B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Peserta didik pada umumnya telah memiliki pengetahuan dasar tentang bilangan bulat, operasi hitung bilangan (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian), serta konsep perkalian berulang dari jenjang SMP. Beberapa mungkin sudah familiar dengan istilah "pangkat" atau "eksponen" secara informal. Keterampilan yang telah dimiliki meliputi kemampuan berhitung dasar dan pemecahan masalah sederhana. Pemahaman awal peserta didik akan bervariasi, ada yang sudah cukup kuat dalam konsep dasar aritmatika, ada pula yang masih memerlukan penguatan. Penting untuk mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan ini di awal pembelajaran.

C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Materi eksponen meliputi jenis pengetahuan konseptual (definisi dan sifat-sifat), prosedural (penyelesaian soal menggunakan sifat eksponen dan bentuk akar), serta pengetahuan faktual (contoh-contoh eksponen dalam kehidupan sehari-hari). Relevansi dengan kehidupan nyata peserta didik sangat tinggi, seperti dalam perhitungan bunga majemuk, pertumbuhan populasi, peluruhan radioaktif, hingga skala Richter gempa bumi. Tingkat kesulitan materi bervariasi, dimulai dari konsep dasar yang mudah dipahami hingga aplikasi pada fungsi eksponensial dan bentuk akar yang memerlukan penalaran lebih mendalam. Struktur materi tersusun secara hierarkis, dimulai dari definisi, sifat-sifat, kemudian penerapan pada fungsi dan bentuk akar. Integrasi nilai dan karakter akan ditekankan pada ketelitian, kerja sama, dan rasa ingin tahu.

D DIMENSI PROFIL LULUSAN
Berdasarkan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
  • Penalaran Kritis: Peserta didik mampu menganalisis permasalahan, mengidentifikasi pola, dan menerapkan konsep eksponen untuk memecahkan masalah.
  • Kreativitas: Peserta didik mampu menyajikan ide-ide baru atau solusi inovatif dalam pemecahan masalah yang melibatkan eksponen dan bentuk akar.
  • Kolaborasi: Peserta didik dapat bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan proyek dan diskusi.
  • Kemandirian: Peserta didik mampu mengelola waktu dan sumber belajar secara mandiri untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  • Komunikasi: Peserta didik mampu mengemukakan ide, gagasan, dan hasil kerja secara lisan maupun tulisan dengan jelas.
....



Selengkapnya, Modul Ajar (MA) dengan Pendekatan Mendalam (Deep Learning) untuk mapel Matematika jenjang SMA/ MA kelas 10, 11 dan 12 dapat teman- teman cek melalui dokumen berikut, 

Oya, bila teman- teman guru membutuhkan kelengkapan ajar lain untuk mapel Matematika kelas 10, 11 dan 12  yang terdiri atas CP, ATP, Program Semester, Program Tahunan, KKTP, dan dokumen lainnya, jangan sungkan untuk hubungi kami melalui halaman kontak. 

Jangan lupa bagikan ke teman- teman lainnya yaa...

Semoga Bermanfaat 
Salam.

Formulir Kontak