.webp)
Penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) di mata pelajaran sejarah SMA,
dapat menjadi sebuah cara yang baru dalam memahami peristiwa di masa lalu dan
mengaitkannya dengan kehidupan di masa sekarang. Pendekatan pembelajaran
mendalam (deep learning) pada kurikulum merdeka ini akan mendorong siswa agar
berpikir secara kritis dan sesuai dengan konteks yang terjadi saat ini.
Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) khususnya di mata pelajaran
sejarah memiliki beberapa prinsip, salah satu diantaranya berpusat pada
pemaknaan, dimana siswa diajak bersama- sama dalam memahami latar belakang,
dampak dan keterkaitan peristiwa sejarah di masa lalu dengan masa sekarang.
Selain itu, siswa juga diajak untuk mengembangkan keterampilan berpikir
tingkat tinggi (HOTS) yang memuat unsur analisis, evaluasi dan sintesis dari
berbagai pandangan.
Teman- teman guru, salah satu komponen yang dapat dibuat pertama kali dalam
menerapkan pendekatan deep learning di mapel sejarah adalah dengan merancang
modul ajar yang sesuai. Dengan berbagai tema sejarah dalam topik bahasan,
dapat dikembangkan aktivitas pembelajaran mendalam dengan kompetensi profil
lulusan deep learning.
Sebagai contoh, pada tema pergerakan nasional, siswa dapat membuat peta
interaktif tokoh dan organisasi pergerakan kemudian menyebutkan strategi
perjuangan yang digunakan pada setiap peristiwa. Adapun kompetensi yang
dikembangkan adalah berpikir kritis, kolaborasi dan literasi digital.
Studi kasus pun dapat dikembangkan sebagai strategi tambahan, misalnya
mengadakan simulasi sidang BPUPKI untuk memahami dinamika perumusan dasar
negara. Tentunya, hal tersebut dikuatkan dengan bahan- bahan analisis seperti
surat, foto, arsip dan rekaman sejarah yang relevan. Tahapan akhir, siswa
dapat menulis refleksi tentang bagaimana pandangan mereka tentang
sejarah.
Nah, sebagai contoh penyusunan modul ajar dengan setiap topik bahasan di mapel
sejarah, berikut ini saya berikan contoh Modul Ajar sejarah SMA
Berikut contohnya,
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : IPS (ILMU SEJARAH)
BAB 1 PENGANTAR ILMU SEJARAH
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah :
Nama Penyusun :
Mata Pelajaran : IPS (Ilmu Sejarah)
Kelas / Fase /Semester : X/ E /
Ganjil
Alokasi Waktu : 4 Pertemuan (4 x 45
menit per pertemuan)
Tahun Pelajaran : 2025 / 2026
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA
DIDIK
- Pengetahuan Awal: Peserta didik umumnya memiliki pemahaman dasar tentang peristiwa sejarah yang relevan dengan diri mereka (misalnya, tanggal lahir, hari kemerdekaan) atau peristiwa besar yang mereka dengar dari media atau pelajaran sebelumnya (misalnya, kemerdekaan Indonesia, tokoh pahlawan). Namun, pemahaman tentang "apa itu sejarah" sebagai sebuah ilmu dan bagaimana cara mempelajarinya mungkin masih terbatas.
- Minat: Minat peserta didik terhadap sejarah bervariasi. Beberapa mungkin tertarik pada cerita-cerita heroik, peristiwa-peristiwa penting, atau tokoh sejarah. Ada juga yang lebih menyukai pendekatan visual (film, dokumenter) atau interaktif (diskusi, studi kasus). Beberapa mungkin menganggap sejarah membosankan karena hanya hafalan tanggal dan nama.
- Latar Belakang: Peserta didik berasal dari latar belakang yang beragam, mempengaruhi perspektif mereka terhadap sejarah. Beberapa mungkin memiliki kisah keluarga yang terkait dengan peristiwa sejarah, atau berasal dari daerah dengan warisan sejarah yang kuat.
Kebutuhan Belajar:
- Visual: Membutuhkan media pembelajaran berupa gambar, video, infografis garis waktu.
- Auditori: Membutuhkan penjelasan lisan yang jelas, diskusi kelompok, pemutaran rekaman suara sejarah (jika ada).
- Kinestetik: Membutuhkan kegiatan simulasi, kunjungan virtual ke museum, atau membuat proyek mini (misalnya, garis waktu).
- Diferensiasi: Ada peserta didik yang membutuhkan bimbingan lebih intensif dalam menganalisis sumber sejarah, sementara yang lain membutuhkan tantangan lebih untuk eksplorasi dan riset mandiri.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
- Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (pengertian sejarah, ruang lingkup, unsur, periodisasi, kausalitas, diakronik-sinkronik), pengetahuan faktual (contoh peristiwa sejarah), dan pengetahuan prosedural (cara berpikir sejarah, langkah-langkah penelitian sejarah sederhana).
- Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Materi ini sangat relevan karena sejarah membantu peserta didik memahami identitas diri dan bangsanya, belajar dari masa lalu untuk masa kini dan masa depan, mengembangkan perspektif kritis terhadap informasi, serta menghargai keragaman budaya dan peradaban. Sejarah juga mengajarkan pentingnya bukti dan interpretasi.
- Tingkat Kesulitan: Tingkat kesulitan materi cukup moderat. Konsep dasar cenderung mudah dipahami, tetapi penerapan cara berpikir sejarah (misalnya, kausalitas, diakronik-sinkronik) dalam analisis kasus memerlukan penalaran kritis dan latihan.
- Struktur Materi: Materi tersusun secara hierarkis, dimulai dari pengertian dasar dan hakikat sejarah, kemudian unsur-unsur penting, konsep berpikir sejarah, dan diakhiri dengan periodisasi serta manfaat mempelajari sejarah. Ini memberikan fondasi yang kuat sebelum masuk ke topik sejarah yang lebih spesifik.
Integrasi Nilai dan Karakter:
- Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Menyadari bahwa setiap peristiwa adalah bagian dari kehendak Tuhan, serta mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu.
- Bernalar Kritis: Menganalisis sumber sejarah, membedakan fakta dan opini, serta menyusun argumen yang logis.
- Kreatif: Menyajikan informasi sejarah dalam bentuk yang inovatif dan menarik.
- Gotong Royong/Kolaborasi: Bekerja sama dalam kelompok untuk menelaah sumber atau menyusun narasi sejarah.
- Kewargaan: Menghargai perjuangan para pahlawan dan berkontribusi dalam melestarikan warisan sejarah dan budaya bangsa.
- Komunikasi: Mengemukakan pendapat dan hasil analisis sejarah dengan jelas.
D DIMENSI PROFIL LULUSAN
- Penalaran Kritis: Peserta didik mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber sejarah, serta membedakan antara fakta, interpretasi, dan bias.
- Kreativitas: Peserta didik mampu menyajikan hasil penelitian sejarah sederhana dalam format yang inovatif dan menarik (misalnya, infografis, video pendek, pameran mini).
- Kemandirian: Peserta didik mampu merencanakan dan melaksanakan tahapan penelitian sejarah sederhana secara mandiri, serta mengambil inisiatif dalam mencari sumber informasi.
- Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME: Memahami bahwa sejarah adalah bagian dari ciptaan dan takdir Tuhan, serta menghargai perjuangan para pendahulu.
Contoh lengkap Modul Ajar (MA) dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep
Learning) untuk mapel Sejarah jenjang SMA/ MA kelas 10, 11 dan 12 dapat
teman- teman cek melalui dokumen berikut,
Jangan lupa bagikan ke teman- teman lainnya yaa...
Semoga Bermanfaat
Salam.
Terima kasih sudah berkunjung dan belajar bersama kami. Silahkan tinggalkan komentar dengan nama dan url lengkap. Penyisipan link dalam kolom komentar tidak diperkenankan yaa...
Sekali lagi, terima kasih...
EmoticonEmoticon